| Add caption |
Akhirnya aku dan teman-temanku berencana mengunjungi beliau dirumahnya, karena beliau sudah pulang dari salah satu rumah sakit disekitar daerah kami. Sebelumnya kami telah mengumpulkan uang yang didapat dari iuran temen-temen kami yang sedari tadi sibuk kesana kemari druang tata usaha.Setelah terkumpul dan dirasa cukup kamipun bergegas meninggalkan suasana ramai yang membuatku ingin segera seperti mereka untuk melanjutkan misi yaitu membeli sesuatu yang akan dibawa ke TKP. Dan kita memilih untuk singgah disebuah toko buah untuk membeli parsel dan disebuah alfamart untuk membeli sesuatu lainnya, barulah selesai kami langsung bersegera menuju ke TKP dengan dua bingkisan hasil singgah kami tadi.
Sesampainya di salah satu gang yang berdekatan dengan salah satu kampus kesehatan didaerah kami, kami beserta rombongan masuk ke gang tersebut dengan kepala suku kami yang paling gagah karena dialah satu-satunya cowok yang ikut dalam rombongan kami dan akhirnya tibalah disebuah rumah yang terlihat teduh dengan campuran warna-warna cat tembok yang semakin menampakkan keserasian dan keindahannya. Kami masuk dengan sapaan dari seorang ibu muda yang cantik, beliaulah ibu dosen kami yang terlihat sangat berbeda ketika mengajar kami dikampus. Beliau begitu ramah, lembut, murah senyum, dan sangat keibuan. Sungguh akupun tertegun dibuatnya, karena benar-benar berbeda dengan kesehariannya ketika dikampus.
Aku tak henti-hentinya mendengarkan dengan cermat perkataan beliau yang begitu menggugah kembali mimpi-mimpiku yang telah ku impikan selama ini. Satu jam telah berlalu dengan candaan, diskusi, arahan dan nasehat dari beliau yang sangat menginspirasiku, kami pun berpamitan dan berfoto-foto terlebih dahulu sebagai kenang-kenangan untuk masa depan kelak sebagai pengobat rindu kami ketika sudah tak bisa bertemu lagi dengan beliau seperti sekarang ini.
Kami pulang dengan hati senang dan puas. Terutama aku, sepulang dari sana aku jadi tambah bersemangat untuk mewujudkan cita-citaku.Aku pasti bisa.Terimakasih bu, hatimu begitu baik, lembut, penuh kasih sayang dan itu semua membuatku malu atas kelakuanku yang tak pernah mau mengerti akan keadaan yang sesungguhnya terjadi. Maafkan aku bu, walaupun mungkin perkataan maafku tak cukup untuk membayar semua kesalah-kesalahanku yang telah aku lakukan kepada ibu, tetapi ijinkan aku untuk mengucapkan kalimat itu sebagai tanda kesungguhanku kepada ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar