Masa
depan telah didepan mata kita. Masa depan yang penuh gejolak, turbulensi
global, ketidak pastian, krisis muldimensi, ketegangan, keragaman,
kompleksitas, perubahan yang cepat hingga terjadinya kejenuhan inovasi. Itu
semua merupakan tantangan yang harus kita hadapi, untuk itu kita harus berani
menjadi bagian dari solusi atas problem yang melanda umat manusia ini. Kita
butuh generasi baru yang dapat mengendalikan peradaban dunia agar lebih baik
lagi. Generasi baru itu haruslah yang siap memimpin dunia ini dengan segala
kecanggihannya dan menjadikannya sesuai dengan aturan kosmos yang telah
dirancang olehNYA.
Dan
untuk menghadapi semua itu kembali pada kualitas diri manusia itu sendiri.
Kualitas itu sesungguhnya terletak pada kualitas kepemimpinan kita sendiri.
Kepemimpinan menjadi tumpuan bagaimana kita menghadapi masa depan, sebab
kepemimpinan pada dasarnya merupakan naluri manusia untuk bertanggungjawab atas
amanah kehidupan yang diberikanNYA pada dirinya. Banyak teori-teori kepimpinan
yang bermunculan hingga yang terakhir adalah teori transformasional, yang semua
itu memiliki umurnya sendiri-sendiri.
Perkembangan
lain dalam kajian kepemimpinan adalah keragaman populasi yang dijadikan subjek
penelitian. Kalau dalam mengkaji kepemimpinan tersebut kita melihat dari
kitab-kitab suci agama yang sesungguhnya terdapat contoh peran-peran
kepemimpinan yang dilakukan oleh para tokoh yang dapat dicontoh oleh para
umatnya, contohnya tokoh tersebut adalah para nabi dan rasul. Bagi orang islam
kepemimpinan nabi sulaiman merupakan suatu sejarah yang sangat berharga karena
pada masa kepemimpinannya, beliau didukung oleh semua makhluk dan tim
kepemimpinan yang berbakat, serta ketika beliau mengalami ketegangan bilateral
beliau dapat menyelesaikan persoalan tersebut dengan smart power, smart politic, smart diplomacy dan total diplomatic.
Selain
didukung oleh semua makhluk, kepemimpinan Nabi sulaiman juga mendapatkan
dukungan dari Alloh SWT. Hal itu dapat dilihat kalimat basmalah pada surah
An-Naml (27) terdapat dua kali penyebutan kalimat basmalah, itu membuktikan
Alloh Ridho terhadap beliau. Dan inilah warisan yang amat berharga untuk kita
petik.
Mari
telusuri warisan emas kepemimpinan Nabi Sulaiman, Quantum Leadhership. Untuk
itu kencangkan sabuk pengaman akal dan hati anda.
***
Al-Qur’an
sebagai kitab suci yang diyakini memiliki tingkat kebenaran mutlak oleh umat
islam, memiliki kekayaan konsep yang bersifat applied dan dapat dijadikan kompas dalam penjelajahan berbagai
bidang ilmu, walaupun sebenarnya Al-Qur’an bukanlah buku sains atau buku
panduan teknologi. Salah satunya adalah konsep kepemimpinan, namun belum banyak
dilakukan elaborasi dan teoritisasi. Kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi
Sulaiman merupakan salah satu konsep kepemimpinan yang patut kita contoh. Nabi
Sulaiman atau yang lebih dikenal Solomon oleh
bangsa barat diyakini baik oleh bangsa israel, kaum kristiani, maupun umat
islam.
Kepemimpinan
pada hakikatnya adalah tentang karakter, dimana karakter selalu berevolusi
untuk dapat bersaing mengikuti zaman. Pepatah Arab mengatakan “Setiap zaman
terdapat tokohnya dan setiap tokoh memiliki karakter yang sesuai dengan
zamannya” Bennis dan Nanus (2006) menyatakan bahwa para pemimpin yang paling
sukses akan menjadi orang yang paling bisa: 1. Menentukan arah di masa penuh
gejolak; 2. Mengatasi perubahan sementara masih menyediakan pelayanan
pelangganan kualitas yang luar biasa; 3. Menarik sumber daya dan menjalin
aliansi baru untuk menampung pengikut baru; 4. Memanfaatkan keragaman di dalam
skala global; 5. Menginspirasi rasa optimisme, antusiasme, dan komitmen
diantara para pengikut mereka; 6. Menjadi pemimpin dari pemimpin, terutama
berkaitan dengan para pekerja pengetahuan.
Kepemimpinan
erat kaitannya dengan bakat dan lingkungan, biasanya orang yang berbakat lebih
berani memutuskan persoalan daripada orang yang berpengetahuan. Orang yang
berbakat memiliki talenta yang mampu mempelajari sesuatu yang disukainya dengan
cepat. Pikiran dan emosinya terlibat dan menantang untuk mengalami hal-hal yang
baru.
Kepemimpinan
yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman diceritakan dalam Al-Qur’an sebanyak 17kali
dalam 7 surah. Diceritakan bahwa kisah kepemimpinan Nabi Sulaiman dalam satu
kasus dengan seorang ratu Saba’ (Yaman Modern). Kisahnya diawali ketika Nabi
Sulaiman melakukan perjalanan ekspedisi bersama tentaranya ke daerah-daerah
tandus hingga sampai dilembah semut. Dan ketika beliau mencari sumber mata air
beliau tidak menemukan hingga diperintahkanlah seekor burung yaitu hudhud untuk
mencari sumber mata air, ternyata burung tersebut justru menemukan sebuah kota
yang terdapat sebuah kerajaan dimana yang memimpin adalah seorang wanita bernama
Ratu Balqis. Awalnya Nabi Sulaiman tidak percaya dengan perkataan burung hudhud
tersebut, untuk membuktikan ucapannya nabipun mengirimkan sebuah surat untuk
Ratu Balqis melalui burung hudhud tersebut. Isi suratnya mengenai ajakan agar
Ratu Balqis mau memeluk agama Alloh. Hingga akhirnya Ratu Balqispun mau memeluk
agama Alloh yang tadinya menyembah matahari sebagai tuhan. Dari situlah
terlihat sifat maskulin Nabi Sulaiman dan sifat feminisme dari Ratu Balqis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar