Sabtu, 25 Agustus 2012

THE KING OF SOLOMON


Masa depan telah didepan mata kita. Masa depan yang penuh gejolak, turbulensi global, ketidak pastian, krisis muldimensi, ketegangan, keragaman, kompleksitas, perubahan yang cepat hingga terjadinya kejenuhan inovasi. Itu semua merupakan tantangan yang harus kita hadapi, untuk itu kita harus berani menjadi bagian dari solusi atas problem yang melanda umat manusia ini. Kita butuh generasi baru yang dapat mengendalikan peradaban dunia agar lebih baik lagi. Generasi baru itu haruslah yang siap memimpin dunia ini dengan segala kecanggihannya dan menjadikannya sesuai dengan aturan kosmos yang telah dirancang olehNYA.
Dan untuk menghadapi semua itu kembali pada kualitas diri manusia itu sendiri. Kualitas itu sesungguhnya terletak pada kualitas kepemimpinan kita sendiri. Kepemimpinan menjadi tumpuan bagaimana kita menghadapi masa depan, sebab kepemimpinan pada dasarnya merupakan naluri manusia untuk bertanggungjawab atas amanah kehidupan yang diberikanNYA pada dirinya. Banyak teori-teori kepimpinan yang bermunculan hingga yang terakhir adalah teori transformasional, yang semua itu memiliki umurnya sendiri-sendiri.
Perkembangan lain dalam kajian kepemimpinan adalah keragaman populasi yang dijadikan subjek penelitian. Kalau dalam mengkaji kepemimpinan tersebut kita melihat dari kitab-kitab suci agama yang sesungguhnya terdapat contoh peran-peran kepemimpinan yang dilakukan oleh para tokoh yang dapat dicontoh oleh para umatnya, contohnya tokoh tersebut adalah para nabi dan rasul. Bagi orang islam kepemimpinan nabi sulaiman merupakan suatu sejarah yang sangat berharga karena pada masa kepemimpinannya, beliau didukung oleh semua makhluk dan tim kepemimpinan yang berbakat, serta ketika beliau mengalami ketegangan bilateral beliau dapat menyelesaikan persoalan tersebut dengan smart power, smart politic, smart diplomacy dan total diplomatic.
Selain didukung oleh semua makhluk, kepemimpinan Nabi sulaiman juga mendapatkan dukungan dari Alloh SWT. Hal itu dapat dilihat kalimat basmalah pada surah An-Naml (27) terdapat dua kali penyebutan kalimat basmalah, itu membuktikan Alloh Ridho terhadap beliau. Dan inilah warisan yang amat berharga untuk kita petik.
Mari telusuri warisan emas kepemimpinan Nabi Sulaiman, Quantum Leadhership. Untuk itu kencangkan sabuk pengaman akal dan hati anda.


***
Al-Qur’an sebagai kitab suci yang diyakini memiliki tingkat kebenaran mutlak oleh umat islam, memiliki kekayaan konsep yang bersifat applied dan dapat dijadikan kompas dalam penjelajahan berbagai bidang ilmu, walaupun sebenarnya Al-Qur’an bukanlah buku sains atau buku panduan teknologi. Salah satunya adalah konsep kepemimpinan, namun belum banyak dilakukan elaborasi dan teoritisasi. Kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman merupakan salah satu konsep kepemimpinan yang patut kita contoh. Nabi Sulaiman atau yang lebih dikenal Solomon oleh bangsa barat diyakini baik oleh bangsa israel, kaum kristiani, maupun umat islam.
Kepemimpinan pada hakikatnya adalah tentang karakter, dimana karakter selalu berevolusi untuk dapat bersaing mengikuti zaman. Pepatah Arab mengatakan “Setiap zaman terdapat tokohnya dan setiap tokoh memiliki karakter yang sesuai dengan zamannya” Bennis dan Nanus (2006) menyatakan bahwa para pemimpin yang paling sukses akan menjadi orang yang paling bisa: 1. Menentukan arah di masa penuh gejolak; 2. Mengatasi perubahan sementara masih menyediakan pelayanan pelangganan kualitas yang luar biasa; 3. Menarik sumber daya dan menjalin aliansi baru untuk menampung pengikut baru; 4. Memanfaatkan keragaman di dalam skala global; 5. Menginspirasi rasa optimisme, antusiasme, dan komitmen diantara para pengikut mereka; 6. Menjadi pemimpin dari pemimpin, terutama berkaitan dengan para pekerja pengetahuan.
Kepemimpinan erat kaitannya dengan bakat dan lingkungan, biasanya orang yang berbakat lebih berani memutuskan persoalan daripada orang yang berpengetahuan. Orang yang berbakat memiliki talenta yang mampu mempelajari sesuatu yang disukainya dengan cepat. Pikiran dan emosinya terlibat dan menantang untuk mengalami hal-hal yang baru.
Kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman diceritakan dalam Al-Qur’an sebanyak 17kali dalam 7 surah. Diceritakan bahwa kisah kepemimpinan Nabi Sulaiman dalam satu kasus dengan seorang ratu Saba’ (Yaman Modern). Kisahnya diawali ketika Nabi Sulaiman melakukan perjalanan ekspedisi bersama tentaranya ke daerah-daerah tandus hingga sampai dilembah semut. Dan ketika beliau mencari sumber mata air beliau tidak menemukan hingga diperintahkanlah seekor burung yaitu hudhud untuk mencari sumber mata air, ternyata burung tersebut justru menemukan sebuah kota yang terdapat sebuah kerajaan dimana yang memimpin adalah seorang wanita bernama Ratu Balqis. Awalnya Nabi Sulaiman tidak percaya dengan perkataan burung hudhud tersebut, untuk membuktikan ucapannya nabipun mengirimkan sebuah surat untuk Ratu Balqis melalui burung hudhud tersebut. Isi suratnya mengenai ajakan agar Ratu Balqis mau memeluk agama Alloh. Hingga akhirnya Ratu Balqispun mau memeluk agama Alloh yang tadinya menyembah matahari sebagai tuhan. Dari situlah terlihat sifat maskulin Nabi Sulaiman dan sifat feminisme dari Ratu Balqis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar